28 April 2016

Batas

Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin
Besok batas hari ini dan lusa
Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,
Bilik penjara, dan kantor walikota
Juga rumahku dan seluruh tempat di mana pernah ada kita
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisahkan kata
Begitu pula rindu,
Antara pulau dan seorang petualang yang gila
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang
Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya
Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu,
Jurang antara kebodohan dan keinginanku
Memilikimu sekali lagi

-Puisi Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta 2, oleh Aan Mansyur-

29 March 2016

Selagi Kau Lelap

Sekarang pukul 01.30 pagi di tempatmu.
Kulit wajahmu pasti sedang terlipat di antara kerutan sarung bantal. Rambutmu yang tebal menumpuk di sisi kanan, karena engkau tidur terlungkup dengan muka menghadap ke sisi kiri. Tanganmu selalu tampak menggapai, apakah itu yang selalu kau cari di bawah bantal?
Aku selalu ingin mencuri waktu. Menyita perhatianmu. Semata-mata supaya aku bisa terpilin masuk ke dalam lipatan seprai tempat tubuhmu sekarang terbaring. Sudah hampir tiga tahun aku begini. Dua puluh delapan bulan. Kalikan tiga puluh. Kalikan dua puluh empat. Kalikan enan puluh. Kalikan lagi enam puluh. Kalikan lagi enam puluh. Niscaya akan kau dapatkan angka ini: 4.354.560.000. 
Itulah banyaknya milisekon sejak pertama aku jatuh cinta kepadamu. Angka itu bisa lebih fantastis kalau ditarik sampai skala nano. Silakan cek. Dan aku berani jamin engkau masih ada di situ. Di tiap inti detik, dan di dalamnya lagi, dan lagi, dan lagi…
Penunjuk waktuku tak perlu mahal-mahal. Memandangmu memberikanku sensasi keabadian sekaligus mortalitas. Rolex tak mampu berikan itu.
Mengertilah, tulisan ini bukan bertujuan untuk merayu. Kejujuran sudah seperti riasan wajah yang menor, tak terbayang menambahinya lagi dengan rayuan. Angka miliaran tadi adalah fakta matematis. Empiris. Siapa bilang cinta lak bisa logis. Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus.
Sekarang pukul 02.30 di tempatmu.
Tak terasa sudah satu jam aku di sini. Menyumbangkan lagi 216.000 milisekon ke dalam rekening waktuku. Terima kasih. Aku semakin kaya saja. Andaikan bisa kutambahkan satuan rupiah, atau lebih baik lagi, dolar, di belakangnya. Tapi engkau tak ternilai. Engkau adalah pangkal, ujung, dan segalanya yang di tengah-tengah. Sensasi ilahi. Tidak dolar, tak juga yen, mampu menyajikannya.
Aku tak pernah terlalu tahu keadaan tempat tidurmu. Bukan aku yang sering ada di situ. Entah siapa. Mungkin cuma guling atau bantal-bantal ekstra. Terkadang benda-benda mati justru mendapatkan apa yang paling kita inginkan, dan tak sanggup kita bersaing dengannya. Aku iri pada baju tidurmu, handukmu, apalagi pada guling… sudah. Stop. Aku tak sanggup melanjutkan. Membayangkannya saja ngeri. Apa rasanya dipeluk dan didekap tanpa pretensi? Itulah surga. Dan manusia perlu beribadah jungkir-balik untuk mendapatkannya? Hidup memang bagaikan mengitari Gunung Sinai. Tak diizinkannya kita berjalan lurus-lurus saja demi mencapai Tanah Perjanjian.
Kini, izinkan aku tidur. Menyusulmu ke alam abstrak di mana segalanya bisa bertemu. Pastikan kau ada di sana, tidak terbangun karena ingin pipis, atau mimpi buruk. Tunggu aku.
Begitu banyak yang ingin kubicarakan. Mari kita piknik, mandi susu, potong tumpeng, main pasir, adu jangkrik, balap karung, melipat kertas, naik getek, tarik tambang… tak ada yang bisa kita lakukan, bukan? Tapi kalau boleh memilih satu: aku ingin mimpi tidur di sebelahmu. Ada tanganku di bawah bantal, tempat jemarimu menggapai-gapai.
Tidurku meringkuk ke sebelah kanan sehingga wajah kita berhadapan. Dan ketika matamu terbuka nanti, ada aku di sana. Rambutku yang berdiri liar dan wajahmu yang tercetak kerut seprai.
Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka mengkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam… mereka masih berani tersenyum saling menyapa ’selamat pagi’.
Selagi Kau Lelap, Filosofi Kopi by Dee Lestari

25 November 2015

"Walaupun setiap hubungan akan berakhir, entah berakhir bahagia atau pahit. Jangan pernah menyesal.
Karena semuanya tidak bisa diulang dan diperbaiki di masa lalu.
Setidaknya kamu pernah mencintai dengan tulus walau tidak berakhir mulus.
Setidaknya pernah berusaha walaupun disepelekan
Setidaknya paham tentang komitmen bersama untuk saling bertahan dalam kondisi sulit
Setidaknya setia pada suatu pilihan dengan segala pertanggungjawaban, entah meninggalkan atau memilih bertahan
Hingga akhirnya suatu hari sadar mungkin kamu memang pantas untuk dapat yang lebih baik, entah orang yang lebih baik atau cerita yang lebih baik
Bukan yang sempurna, karena ketika kamu mencari yang sempurna kamu akan kehilangan yang terbaik
Dan mungkin suatu saat, entah kapan, ada bagian yang sadar bahwa ada yang telah merasa kehilangan
Baiknya, jadilah orang yang berkualitas, yang bisa memberi arti dalam suatu hubungan yang mampu memberi kenangan, yang mampu bangkit ketika harus jatuh berkali-kali, yang mampu memaafkan secara perlahan atau bahkan yang dengan ikhlas memberikan kesempatan kedua (jika ditakdirkan)
Bukan hanya yang memberi atau meninggalkan luka pahit, serta berfikir ini cuma "cinta monyet" , atau cuma permainan yang ga perlu dibawa serius. Kamu yakin?
Karena kita tidak tahu setelah kamu menyakitinya, apakah setelah semua yang terjadi dia masih orang yang sama.
Because a broken heart is what changes people.
(November, 2014)"

mungkin memang harus jadi seperti ini. aku dan dia sedang sama-sama berusaha untuk saling melupakan dan menjauh. apapun yang dia lakukan, aku percaya itu caranya untuk melupakanku. bagaimana caraku melupakannya, biarkan menjadi rahasiaku. 

aku nggak pernah menyesali keputusanku, aku nggak pernah menganggap ini sebuah kesalahan, untuk aku ini kenangan dan pembelajaran. sejak awal aku tau ada alasan kenapa kami dipertemukan, sekarang aku tau hanya untuk memberi pembelajaran dan cerita yang berkesan untuk dikenang. lebih dari itu, cukup aku yang faham.

terima kasih atas dua tahun yang penuh dengan kebahagiaan, juga luka dan tangisan. 
semoga ceritamu setelah ini, jauh lebih membahagiakan karna aku tau, kamu juga sudah banyak belajar.. 
terakhir, maaf aku nggak memberikan apa-apa bahkan ketika kamu sudah memperjuangkannya... you have no idea how i can't stop blaming myself for this. 

thank you & sorry, my 16

30 July 2015

Do You?

"Do you believe in love at first sight? Why or why not?"


"I believe in not just one type of love-at-firsts.
I believe in love at first mindblowing conversation. I believe in love at first roadtrip. Love at first fight, and love at first exchanged apologies after the fight.
In the morning, I believe in love at first sight... of her sleeping in your bed. In the late evening, love at first pillow talk.
Love at first synced periods and everyone is cranky and everyone has cramps and you can't use your PMS card because the other person is in the same level of hell as you are, (asshole).
I believe in love at first "I hate you so much" and she knows you're kidding. Love at first "Why am I in love with you again?" and you know she's kidding.
I believe in love at first Big Fight, when you're questioning why, or whether it's worth it. I believe in love at first running out of air because you're both laughing so hard. Love at first holding her hair when she's hungover. Love at first cup of tea and bowl of soup she makes for you because you're having a terrible case of flu.
Love at first tangled up in bed don't know where your skin ends and hers begins. Love at first empty space left side of the bed and it's always a little colder.
Love at first birthday when she's planning a surprise party and you didn't know. Love at first birthday when you're planning a surprise party and she already knows. Love at first "can you just tell me what you want for your birthday this year" and you actually already know what she wants.
Love at first dancing to Tracy Chapman's The Promise in the living room. Love at first screaming hysterically because "THERE IS A COCKROACH IN THE LIVING ROOM GET IT OUT OF HERE"
I believe in the kind of love that never runs out of firsts."

17 July 2015

it's all about commitment

"do you know how to stay together no matter what?"

"yes.
1) stay together,
2) no matter what."