20 November 2010

marmut merah jambu

udah baca ini novel 4x. beneran ngga tertarik sama novelnya radityadika yang sebelum sebelumnya. tapi yang ini, ampun bang, lgsg jatuh cinta :o

banyak banget deh kalimat di novel itu yg buagus buangeeeet. mau nulis satusatu ahh

"pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan, mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak sesungguhnya kita butuhkan. dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian."

----------brb makan -_-

----------oke udah.

"kata-kata bayu terngiang kembali di kepala gue, 'Clarissa menurut gue salah banget.' well, seandainya ada bayu di sini, gue mau tanya balik ke dia, 'apa yang salah dari orang yang terlalu dalam sayang sama orang lain?'"

--------------

"luka sunat mungkin bisa satu bulan hilang, tetapi rasa sakit hati karena ditolak cewek yang kita taksir, bisa jauh lebih lama. karena luka hati, terutama ketika tidak dijahit, bisa jadi tidak akan pernah kering."

--------------

"Lo tau sendiri, kalau lo udah pecah berkeping-keping, gimana caranya lo bisa ngerasain apa-apa lagi?"

--------------

*kalo cewek mutusin cowok*

cowok: halo...
cewek: halo!
cowok: iya? ini kamu, sayang?
cewek: iya ini aku lah, bego!

hening.

cowok: ke-kenapa sayang?
cewek: kita udah ga cocok.
cowok: lho? maksud kamu?
cewek: kita putus.
cowok: lho? sayang?
cewek: KITA PUTUS!

klik. telfon ditutup.
putus dengan mengenaskan.

*kalo cowok mutusin cewek*

cewek: halo...
cowok: halo...sayang, ini aku..
cewek: iya aku tau lah, bego!

hening.

cowok: sayang....
cewek: iyaaaaa?
cowok: aku mau ngomong sesuatu.
cewek: apaaaaa?
cowok: kayaknya...kita udah gak cocok deh.
cewek: maksud kamu?
cowok: kita kayaknya....harus...putus.
cewek: tunggu dulu, tunggu dulu...

hening.

cewek: kamu mau putus sama aku?
cowok: iyaa...
cewek: kenapa?
cowok: abis...kamu marah-marah terus...
cewek: aku marah marah emang garagara apa?
cowok: garagara...uhhh...garagara....aku?
cewek: nah. jadi siapa yang salah?
cowok: aku?
cewek: nah, jadi putus gak?
cowok: en-engga...
cewek: kamu harus berubah ya!
cowok: iya....sayang...

klik. telfon ditutup.
enggak jadi putus.

--------------

"....sampai akhirnya membuat janji seperti lazimnya orang pacaran lainnya, seperti: kita bakalan kayak gini terus. janji yang terkadang gak bisa ditepati."

--------------

dia bertanya lagi ke gue, 'kamu darimana yakin kita bakal gini terus?' dia lalu berdehem, sebelum akhirnya melanjutkan, 'sebelumnya kan kamu juga udah pernah pacaran. pernah punya hubungan yang gagal.'
'lah, kamu juga,' balas gue.
'makanya. siapa tau...kita nanti gagal juga?'
'itu risiko yang aku ambil,' kata gue.

--------------

'karena kita, seperti belalang, tahu bahwa untuk mencintai seseorang, butuh keberanian.'

--------------

Alih-alih seperti belalang, gue merasa seperti seekor marmut berwarna merah jambu yang terus-menerus jatuh cinta, loncat dari satu relationship ke yang lainnya, mencoba berlari dan berlari dan berlari di dalam roda bernama cinta, seolah-olah maju, tapi tidak.... karena sebenarnya jalan di tempat. Entah sudah berapa kali gue naksir orang sebelum bertemu pacar gue yang sekarang ini. Entah berapa kali patah hati, berantem, cemburu yang gue alami sebelum ketemu dia. Entah berapa kali nembak dan putus, seolah-olah gue berlari dan berlari dari satu hubungan gagal ke hubungan gagal lainnya, seperti marmut yang tidak tahu kapan harus berhenti berlari di roda yang berputar. Dan hubungan kali ini, setiap gue memandangi dia, pertanyaan besar itu pun timbul: apakah sekarang saatnya berhenti?

--------------abis. allahuakbar.