09 April 2010

kisah lalu

Setiap malam tiba, sambil berlutut di samping tempat tidur, aku memohon pada Tuhan agar Dia memberi tahu engkau bahwa aku ada di dekatmu. Tapi, kemudian, aku akan berdoa lagi agar hal itu tak pernah terjadi. Aku sering terjaga lebih lama untuk memerhatikan langit malam dari balik kaca jendela kamar, berharap di suatu detik ada secercah bintang melintas hingga aku bisa menitipkan ucapan selamat tidur bagimu. Tapi, aku tahu kau sudah terlelap dan tak membutuhkan salam dariku lagi. Aku selalu berharap untukmu, harapan yang tak pernah membelah bibir, tapi kuiringi dengan segenap hati.

Ketika itu, kesedihan dan putus asa mulai menggenangi dan aku merasa seperti akan meledak menjadi serpih-serpih. Aku akan hancur dalam kesendirian dan kau tak akan pernah mengetahui bahwa ada seseorang yang pernah mencintaimu walau hanya dari kejauhan.

Namun, bukan hanya kesedihan yang dapat menghancurkan diriku menj`di kekosongan. Saat mengenang hari hari ketika hatiku berada bersamamu, mendengar alunan suaramu, dan menoleh menatap wajahmu yang sedang menunduk dalam keheningan, kebahagiaan akan bangkit, terlalu banyak bagiku untuk menyimpan semuanya. Terkadang, aku harus menutup mataku untuk bertahan dari serbuan emosi ini dan menenangkan diriku sendiri. Terkadang, aku menolak memikirkan dirimu untuk menghindari badai ini. Tapi, kemudian, aku akan merindukan perasaan yang mengaliriku serta bayangan akan dirimu..

No comments:

Post a Comment